Peta Pergeseran wilayah Palestina oleh Israel
Tahun 1896, Theodor Herzl, penggagas gerakan zionisme, mengeluarkan
usulannya untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Hal ini
disebabkan bangsa Yahudi yang terpencar dan tidak memiliki tanah air
sejak Romawi menguasai Palestina. Akhirnya, beberapa orang Yahudi
mendirikan koloni di daerah Palestina.
Theodor Herzl, Arthur Balfour
Tahun 1914, muncul perselesihan antara Inggris Raya dan Turki. Akhirnya
menyebabkan keduanya berperang. Palestina sempat dijadikan markas
militer oleh Turki. Namun, akhirnya tahun 1918 Inggris resmi menang, dan
Palestina dikuasai oleh Inggris.
Tanggal 2 November 1917, keluar deklarasi menteri luar negeri Inggris,
Arthur Balfour, yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour. Deklarasi ini
berisi tentang dukungan Inggris terhadap pendirian negara Yahudi di
Palestina. Hal ini disebabkan oleh bangsa Yahudi telah membantu Inggris
dalam memenangi Perang Dunia I dan Inggris ingin menguasai Palestina
karena berada di daerah strategis di antara Asia, Eropa, dan Afrika.
Pada tahun 1920, kantor pemerintahan Inggris di Palestina (British
Mandate of Palestine) berdiri, Komisi Tinggi-nya adl Herbert Samuel.
Setelah tahun-tahun tersebut, imigrasi Yahudi ke daerah Palestina terus
meningkat. Orang Yahudi yang baru datang, biasanya masuk ke kota dan
mendirikan perusahaan-perusahaan di sana.
Tahun 1929, mulai terjadi kerusuhan besar antara bangsa Arab dan Yahudi.
Konflik ini terjadi karena adanya perebutan hak-hak beberapa tempat
suci di Yerussalem. Selain itu, berdasarkan hasil penyelidikan tim yang
dibuat Inggris, hal ini terjadi karena orang-orang Arab tertekan dengan
pembelian tanah dan imigrasi orang Yahudi yang akhirnya mendesak mereka.
Tahun 1933, bangsa Yahudi hanya berjumlah 17% dari seluruh masyarakat
Palestina. Namun, setelah masa itu, saat Hitler berkuasa di Jerman dan
Polandia, terjadi gelombang migrasi besar-besaran dari Eropa ke
Palestina. Pada saat itu juga terjadi perubahan politik di Timur Tengah.
Mesir dan Suriah yang merdeka menyebabkan tumbuhnya nasionalisme untuk
memerdekakan diri. Akhirnya timbul wacana untuk melepaskan Palestina
dari Inggris.
Tahun 1938, Konflik antara Arab-Yahudi memuncak. Inggris mengeluarkan
mandat yang intinya akan membagi Palestina menjadi dua bagian, yaitu
untuk Arab dan Yahudi untuk menghentikan perpecahan. Namun, beberapa
tahun kemudian mandat itu dicabut dan diganti dengan white paper yang
intinya mendesak dibentuk satu pemerintahan gabungan antara Arab dan
Yahudi. White-paper ini ditentang oleh bangsa Yahudi.
Pada saat itu, bangsa Yahudi yang tinggal di Amerika memegang peranan
penting dalam perekonomian Amerika. Hal ini menyebabkan Amerika
berpihak kepada kepentingan bangsa Yahudi. Inggris yang mulai merasa
terganggu hubungannya dengan Amerika akhirnya menyerahkan tentang
Palestina ke PBB. Inggris sendiri akan menarik mandatnya dari Palestina
tanggal 15 Maret 1948.
1 September 1947, PBB menyarankan agar Palestina dibagi 2, menjadi
daerah untuk bangsa Yahudi dan Arab. Bangsa Yahudi dan Arab yang
tinggal di Palestina saling berebut pengaruh dan menolak aturan
tersebut. Mulailah berbagai perang gerilya yang melibatkan keduanya.
Namun, sayangnya, semangat bangsa Yahudi lebih berlipat dibanding dengan
bangsa Arab di sana. Di saat terjadi perang, para ningrat Arab malah
kabur ke negara lain. Tanggal 14 Mei 1948, Israel diproklamirkan
orang-orang Yahudi. Esoknya Amerika Serikat mengakui kedaulatan Israel.
Perjuangan Palestina Pasca 1948
(red. Mulai saat ini, digunakan istilah bangsa Palestina untuk
penduduk yang kebanyakan Arab yang tinggal di Palestina yang bukan
masyarakat Yahudi)
Negara-negara Arab di sekitar Palestina menolak kehadiran Israel di
sana. Terjadilah perang. Israel menang telak, dan akhirnya mengusai
seluruh daerah Palestina kecuali Tepi Barat yang dikuasai Suriah dan
Jalur Gaza yang dikuasai Mesir. Terjadi pengungsian besar-besaran bangsa
Palestina dari Palestina. Penduduk Palestina terbagi menjadi 3, yang
tinggal di pendudukan Israel, tinggal di jalur Gaza dan Tepi Barat, dan
yang mengungsi ke daerah-daerah luar Palestina. Setelah itu, sering
terjadi bentrok antara Israel dan negara-negara sekitarnya. Tahun 1964
berdiri PLO (Palestinian liberation Organization), sebuah organisasi
yang nantinya diakui sebagai satu-satunya organisasi yang mewakili
aspirasi masyarakat Palestina. Pada kelanjutannya, PLO dipimpin oleh
Yaseer Arafat.
Yaseer Arafat
Pada tahun 1967, terjadi perang 6 hari antara Israel-Mesir. Mesir kalah
telak sehingga Israel berhasil menduduki daerah Sinnai. Tahun 1973,
Mesir dan Suriah bersatu untuk menyerang Israel, namun Israel menang dan
menguasai daerah hingga mendekati Terusan Suez. Mesir akhirnya
mengakui keberadaan negara Israel, dengan imbalan daerahnya sampai
dengan Sinnai dikembalikan ke Mesir (tercantum dalam Perjanjian Camp
David 1978).
Sejak saat itu, wilayah Palestina dikuasai Israel. Israel sendiri demi
kepentingan zionismenya, membentuk perumahan-perumahan untuk bangsa
Yahudi di daerah Palestina. Israel sendiri menduduki Jalur Gaza dan Tepi
Barat. Di sana, bangsa Palestina dijadikan masyarakat kelas dua.
Perumahan mereka digusur dan diteror. Bangsa Palestina terus menerus
menderita di bawah pendudukan Israel.
Akibat dari tekanan pendudukan Israel, muncullan gerakan yang dinamakan
Intifada pada tahun 1987. Gerakan Intifada sendiri, yang secara harfiah
berarti “pemberontakan”, merupakan gerakan melawan tentara Israel yang
bersenjata dengan batu-batu dan ketapel. Seluruh aspek bangsa Palestina,
baik itu anak-anak dan orang tua, lelaki dan wanita melakukan
perjuangan dengan melempar batu ke arah tentara-tentara Israel yang
bersenjata dan bertank lapis baja. Selain itu munculnya beberapa
kelompok-kelompok garis keras, seperti HAMAS pada tahun 1987, yang
memiliki pemikiran bahwa satu-satunya cara menguris Israel dari
Palestina adalah dengan perang jihad.


Pada 30 Oktober 1991, dimulai konferensi Madrid, antara Israel dan
Palestina yang diwakili oleh PLO. Pertemuan berlanjut sehingga pada 13
September 1993, ditandatangai Perjanjian Oslo yang berisi PLO diberi
wilayah otonomi, yaitu 60% dari Jalur Gaza dan kota Ariha di Tepi Barat.
Imbalannya, PLO mengakui eksistensi Israel. Pada 1 Juli 1994, Arafat
memasuki Gaza dalam rangka mendirikan Otoritas Nasional Palestina
(Palestinian National Authority; selanjutnya disebut PNA). Pada 1996
diadakan pemilu pertama bangsa Palestina, Yasser Arafat terpilih menjadi
Presiden. Selanjutnya muncul beberapa perjanjian seperti:
1. 17 Januari 1997, Perjanjian Al Khalil ditandatangani
Israel-Palestina yang berisi 20% wilayah Al Khalil tetap dikuasai
Israel, sisanya diserahkan kepada Palestina.
2. 23 Okt 1998, Perjanjian Maryland ditandatangani Israel-PNA. Berisi
Israel menyerahkan sebagian wilyah di Tepi Barat kepada PNA, sebagai
imbalan, PNA berjanji mengatasi masalah terorisme (terorisme sendiri
merujuk kepada tindakan HAMAS)
Wilayah Palestina sendiri terbagi dua, yaitu Tepi Barat dan Jalur Gaza yang masing-masing dipisahkan oleh wilayah Israel.

Pada 28 Sept 2000, Intifadah Kedua dimulai, dipimpin oleh HAMAS. PNA
sendiri dalam pihak yang bertentangan dengan HAMAS. PNA lebih milih
untuk berdialog daripada berperang. Pada 26 Okt 2004, gigihnya
perjuangan Intifadah II membuat Israel kewalahan dan mengesahkan program
penarikan mundur dari Jalur Gaza. Pada, 11 Nov 2004 Yaser Arafat
meninggal. Kepemimpinan di PLO digantikan oleh Mahmoud Abbas. September
2005 dimulai penarikan mundur tentara Israel dari Jalur Gaza. Inilah
kemenangan para pejuang Palestina setelah 38 tahun. Namun, Israel terus
melancarkan serangan dan teror ke Jalur Gaza. Selain itu, Israel
mendirikan tembok-tembok pembatas yang mengucilkan pemukiman Palestina
dan memperlebar perumahan bagi bangsa Yahudi.
Pada Pemilu 2006, HAMAS memenangi pemilu. Namun, sebagian besar negara
barat menolak hasil pemilu ini karena menanggap HAMAS adalah teroris
dunia. HAMAS sendiri berpusatkan di daerah Jalur Gaza.
Beberapa kali terjadi bentrok antara HAMAS dan Israel yang ditandai
saling meluncurkan roket dan misil di perbatasam. Hal ini memaksa perang
terjadi. Perang yang terakhir terjadi pada Desember 2008. Pasca
gencatan senjata berakhir pada November 2008, tank-tank Israel masuk ke
perbatasan jalur Gaza dan milisi HAMAS menembakkan roket ke arah Israel
dari Jalur Gaza. Akhirnya, dimulailah perang yang ditandai dengan
tanggal 27 Desember 1998, Israel melakukan serangan udara yang diikuti
serangan darat ke arah Jalur Gaza dengan dalih memusnahkan HAMAS. Perang
terjadi sampai dengan 19 Januari 2008 dan menewaskan 1200 lebih warga
Palestina dan belasan tentara Israel. Sayangnya, dari kebanyakan warga
yang tewas bukanlah dari kalangan militer. Bahkan, sekitar 600 orang
merupakan anak-anak dan perempuan.
Pada saat tulisan ini dibuat (21 Januari 2009), Israel telah menarik
mundur pasukannya dari Jalur Gaza. Keadaan Jalur Gaza saat ini bagaikan
kota yang luluh lantah. Bangunan hancur dan masyarakat yang mengalami
luka baik fisik maupun mental yang traumatis akibat perang. Rumah sakit
penuh oleh orang yang terluka dan masyarakat yang hidup di sana
kekurangan bahan makanan dan obat-obatan. Meskipun bantuan telah masuk,
namun diperkirakan Jalur Gaza tidak akan pulih dalam waktu dekat.
Padahal, deadaan di Palestina masih memungkinkan untuk terjadi perang
kembali. Korban-korban lain masih mungkin berjatuhan.
Hentikan kekerasan di Gaza dan sekitarnya… Duka yang dialami Palestina bukan hanya duka penduduk Palestina,
orang-orang Arab, dan umat Islam saja. Tapi juga duka bagi setiap
manusia dari berbagai negara, ras, bangsa, etnis, dan agama. Karena
dulu, negeri Palestina adalah negeri dimana 3 agama (Islam, Yahudi, dan
Kristen) hidup damai dalam penuh kerukunan dan kehormatan keberagaman.
sumber: http://birunyasamudra.blogspot.com